Senin, 23 Maret 2026
HISAB VS RUKYAT
Kamis, 05 September 2024
💠 SUNNAH BERDOA SETELAH TASYAHHUD SEBELUM SALAM 💠
٢٤ - يُسَنُّ ٱلدُّعَآءُ بَعْدَ ٱلتَّشَهُّدِ وَقَبْلَ ٱلسَّلَامِ، وَلَا يُطَوِّلُهُ زِيَادَةً عَلیٰ قَدْرِ ٱلتَّشَهُّدِ وَالصَّلَاةِ عَلیٰ ٱلنَّبِيِّ ﷺ -٢-، وَأَفْضَلُهُ : " ٱللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ ٱلْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ ٱلْمَحْيَا وَٱلْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ ٱلْمَسِيْحِ ٱلدَّجَّالِ، وَمِنَ ٱلْمَغْرَمِ وَٱلْمَأْثَمِ.
24. Disunnahkan membaca do'a setelah tasyahhud akhir dan sebelum salam,
namun tidak terlalu panjang sehingga melebihi bacaan tasyahhud dan sholawat
kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Do'a yang
paling utama tsb artinya ;
" Ya Allah, kami meminta perlindungan dari Panjenengan dari siksa neraka
Jahannam, dari siksa qubur, dari fitnah kehidupan juga kematian, dari bahaya
fitnah Dajjal, dari kerugian dan dari dosa.
" أَللّٰهُمَّ إِغْفِرْ لِيْ مَاقَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ،
وَمَاأَسْرَرْتُ وَمَاأَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَآ أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ
مِنِّيْ، أَنْتَ ٱلْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ ٱلْمُؤَخِّرُ، لَآ إِلٰهَ إِلَّآ أَنْتَ
"
" Ya Allah, ampunilah saya, atas dosa yang telah lewat, juga dosa yang
lalu. Dosa-dosa yang aku rahasiakan dan aku tampakkan, juga dosa yang melampaui
batas, serta dosa-dosa yang Engkau lebih mengetahui dari pada aku, Engkau Dzat
yang Maha dahulu dan Maha Akhir, tidak ada Tuhan selain ُEngkau.
وَالدُّعَآءُ ٱلَّذِيْ عَلَّمَهُ ٱلنَّبِيُّ ﷺ سَيِّدَنَا
أَبَا بَكْرٍ ٱلصِّدِّيْقِ، وَهُوَ : " أَللّٰهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسُيْ
ظُلْمًا كَثِيْرًا كَبِيْرًا، وَلَا يَغْفِرُ ٱلذُّنُوْبَ إِلَّآ أَنْتَ،
فَإِغْفُرْلِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَإرْحَمْنِيْ، إِنَّكَ ٱلْغَفُوْرُ ٱلرَّحِيْمُ
".
Dan do'a yang di ajarkan oleh Rosulullah ﷺ
kepada Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq RA yaitu,
" Ya Allah, sesungguhnya aku telah berbuat ani-aya kepada diriku
sendiri, dengan aniaya yang banyak juga besar. Dan tidak ada yang mengampuni
dosa selain Engkau. Maka ampunilah kami dengan ampunan dariMu, Belas
kasihanilah kami dan sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha pengampun serta Maha
kasih sayang".
٢٥ - يُسَنُّ فِيْ ٱلسَّلَامِ
: أَنْ يَبْتَدِئَ بِهِ وَوَجْهُهُ مُسْتَقْبِلُ ٱلْقِبْلَةِ، وَٱلتَّسْلِيْمَةُ ٱلثَّانِيَةِ،
وَٱلْإِلْتِفَاتُ بِحَيْثُ يُریٰ خَدُّهُ فِيْ ٱلتَّسْلِيْمَيْنِ مِنَ ٱلْخَلْفِ،
وأَنْ يَبْدَأََ ٱل٘إِلْتِفاتِ عِنْدَ ٱلْمِيْمِ مِنْ :عَلَيْكُمْ،
وَالْإِنْتِهاءُ مِنَ ٱلسَّلاَمِ مَعَ آلْإِنْتِهَاءِ مِنَ ٱلإِلْتِفَاتِ،
وَالتَّيَامُنُ فِيْهِ، وَأنْ يَزِيْدَهُ قَوْلُهُ ; " وَرَحْمَةُ اللّٰهِ
" -١- وَإِدْرَاجُ ٱلسَّلاَمِ، وَعَدَمُ مَدِّهِ، وَأَنْ يَفْصِلَ بَيْنَ ٱلتَّسْلِمَتَيْنِ
بِقَدْرِ " سُبْحَانَ اللّٰهِ "، وَنِيَّةُ ٱلْخُرُوْجِ مِنَ ٱلصَّلاَةِ
مَعَ تَسْلِيْمَةِ الْأُوْلیٰ، وَأْنْ يَنْوِيْ ٱلسَّلاَمَ عَلیٰ ٱلْمَلآَئِكَةِ
وَٱلْمُؤْمِنَي ٱلْإِنْسِ وَالْجِنِّ -٢- فِيْ ٱلتَّسْلِيْمَتَيْنِ، وَيَنْوِيَ ٱلرَّدَّ
عَلیٰ ٱلْإِمَامِ فِيْ إِحْدَاهُمَا.
25. Sunnah memulai salam dengan posisi menghadap Qiblat. Sunnah mengucapkan
salam kedua, menoleh didalam kedua salam sehingga pipinya dapat dilihat dari
belakang, menoleh dimulai ketika mengucapkan MIMnya lafadl " عَلَيْكُمْ
" dan selesai mengucapkan salam bersamaan dengan selesainya menoleh.
Mendahulukan menoleh ke arah kanan, menambahkan lafadl " وَرَحْمَةُ
اللّٰهِ " melambatkan salam, tidak terlalu memanjangkan ucapan
salam, memisah di antara kedua salam dengan kira-kira waktu yang cukup untuk
mengucapkan " سُبْحاَنَ اللّٰهُ " niat
keluar dari sholat bersamaan dengan salam yang pertama, niat mengucapkan salam
kepada para Malaikat dan kaum mukmin dari kalangan manusia dan jin pada kedua
salam, dan niat menjawab : Imam pada salah-satu salam.
Mekaten mugi manfaat mohon maaf bila terdapat khilaf.
Kami nuqil dari kitab تَقْرِيْرَةُ
السَّدِيْدَة bab Sunnah halaman 247-248
والله الموفق إلی
أقوم الطريق،
ألفقير إلی رحمة
الله عزّی وجلّیٰ،
Moch Turchan Amar,
Sidoarjo, Jum'at Legi, 02 Robi'ul Awwal 1446 H/06 September 2024 M.
٭٭٭ ❉ ❉ ❉٭٭٭
Sabtu, 29 April 2023
📕 Sejarah dan Dinamika Pemikiran Hisab Muhammadiyah
Minggu, 03 April 2022
Hilal yang populer saat awal Ramadhan dan 1 Syawal
KOMPAS.com- Pada setiap kali momentum penentuan awal bulan Ramadhan, pasti Anda sering sekali mendengar bahwa Kementerian Agama, BMKG, ilmuwan dan masyarakat akan beramai-ramai melihat ketampakan hilal.
Hal ini pun menimbulkan pertanyaan mendasar, apa itu hilal yang selalu ramai diperbincangkan menjelang bulan puasa?
Hilal adalah bulan sabit tertipis yang berkedudukan rendah di atas cakrawala langit barat, dan sudah diamati tepat selepas terbenam Matahari.
Dalam agama Islam, hilal atau bulan sabit tertipis dijadikan sebagai penentu perbedaan waktu dan menentukan kapan waktu yang tepat untuk beribadah kepada Allah SWT.
Pada prinsipnya dalam menentukan 1 Ramadhan, pemerintah melalui sidang isbat yang dipimpin oleh Kementerian Agama (Kemenag) akan mempertimbangkan pendekatan hisab dan rukyatul hilal.
Untuk diketahui, pendekatan hisab adalah cara memperkirakan posisi bulan dan matahari terhadap bumi dengan proses perhitungan astronomis.
Sedangkan, pendekatan rukyat adalah aktivitas pengamatan visibilitas hilal atau bulan sabit saat Matahari terbenam menjelang awal bulan di Kalender Hijriah.
Periode Ramadhan 1443 Hijriah di tahun 2022 Masehi ini, ditetapkan pemerintah jatuh pada tanggal 3 April 2022, dikarenakan ketinggian atau ketampakan hilal yang terlalu rendah dan tidak mungkin terlihat.
Disampaikan oleh Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas dalam sidang isbat penentuan awal Ramadhan 2022, Jumat (1/4/2022) bahwa ketinggian penampakan hilal di seluruh Indonesia pada posisi 1 derajat 6,78 menit sampai dengan 2 derajat 10.02 menit berdasarkan hisab.
Hal ini dianggap belum memenuhi kriteria jika mengacu pada MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Dalam pedoman MABIMS, untuk menetapkan 1 Ramadhan 1443 Hijriah, tinggi bulan minimal adalah 3 derajat dengan elongasi minimal 6,4 derajat.
“Artinya, di Indonesia ini (penampakan) hilal terlalu rendah dan tidak mungkin bisa mengalahkan cahaya syafaq, sehingga tidak mungkin untuk terlihatnya hilal,” ujar anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriah Kemenag, Thomas Djamaluddin.
Tinggi hilal adalah besar sudut yang dinyatakan dari posisi proyeksi Bulan di Horizon-teramati hingga ke posisi pusat piringan Bulan berada.
Tinggi hilal positif berarti hilal berada di atas horizon pada saat Matahari terbenam. Sedangkan, tinggi hilal negatif berarti hilal berada di bawah horizon pada saat Matahari terbenam.
Thomas menambahkan, tinggi bulan atau hilal di wilayah Jakarta kemarin hanya 1 derajat 42 menit, yang artinya tidak sesuai dengan kriteria penentuan awal Ramadhan, yang mana menjadi penentu awal puasa.
Metode melihat hilal
Astronom amatir Indonesia sekaligus Pembimbing dan Pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIK) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKIF) Kebumen Jawa Tengah, Marufin Sudibyo mengatakan, setidaknya ada tiga metode yang digunakan dalam melihat hilal ini.
Metode melihat hilal yang pertama adalah dengan menggunakan mata telanjang.
“Metode pertama adalah menggunakan mata telanjang, tanpa alat bantu optik sama sekali, Sehingga, menghasilkan fenomena kasatmata-telanjang,” jelas Marufin dalam pemberitaan Kompas.com edisi 22 April 2020.
Metode kedua dilakukan dengan menggunakan alat bantu optik terutama teleskop, namun tetap mengandalkan penglihatan mata.
"Ini menghasilkan fenomena kasatmata-teleskop,” tambahnya.
Metode terakhir adalah dengan menggunakan alat optik terutama teleskop yang terangkai dengan sensor atau kamera.
Baca juga: Hilal Tidak Terlihat, Kapan Puasa Ramadhan 2022? Ini Kata Kemenag
“Sensor atau kamera ini memproduksi denyut elektronik yang bisa diolah sebagai citra atau gambar. Ini menghasilkan fenomena kasat-kamera,” tambahnya.
Dari ketiga metode tersebut, yang paling populer adalah penggunaan metode mata telanjang dan mata yang dibantu oleh alat optik khususnya teleskop.
Mengapa perlu melihat hilal?
Marufin menyebutkan bahwa melihat hilal dinyatakan secara tekstual dalam sabda Nabi SAW: “Berpuasalah (dan berhari raya) karena melihat hilal. Jika tidak terlihat maka genapkanlah.”
Dengan landasan itu, maka rukyatul hilal (observasi hilal) dipahami sebagai ibadah. Selain menentukan awal bulan kalender Hijriyah, hilal juga menentukan awal dua hari raya.
“Meski di sini ada sedikit perbedaan. Lembaga seperti Nahdatul Ulama berpedoman seluruh awal bulan kalender Hijriyyah harus ditentukan oleh terlihat atau tidaknya hilal, maka rukyatul hilal (observasi hilal) digelar setiap awal bulan,” papar Marufin.
Sementara itu, lembaga yang lain berpedoman rukyatul hilal cukup dilakukan hanya pada awal Ramadhan dan dua hari raya.
Baca juga: Penentuan Hilal Ramadhan 1443 H, BMKG Ungkap Potensi Hasil Rukyat Awal Puasa
Sementara di bulan-bulan kalender Hijriah lainnya tidak ditetapkan dengan rukyatul hilal, tetapi ditetapkan berdasarkan hisab (perhitungan numerik-astronomik) yang bersandar pada sebuah kriteria yang memuat parameter-parameter minimal posisi Bulan.
“Sementara lembaga seperti Muhammadiyah berpedoman, seluruh awal bulan kalender Hijriyyah ditetapkan dengan cara hisab berdasarkan kriteria tertentu saja,” tambahnya.
Kondisi yang mempengaruhi rukyatul hilal
Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Rahmat Triyono, ST, Dipl.Seis, M.Sc mengatakan, yang perlu diperhatikan dalam perencanaan rukyat hilal adalah perlu diperkirakan juga objek-objek astronomis.
Objek-objek astronomis yang dimaksud adalah yang selain hilal dan Matahari yang posisinya berdekatan dengan Bulan dan kecerlangannya tidak berbeda jauh dengan hilal atau lebih cerlang daripada hilal.
Baca juga: 8 Data yang Jadi Pertimbangan Penentuan Hilal Awal Ramadhan 1443 Hijriyah
Objek astronomis ini dapat berupa planet, misalnya Venus atau Merkurius, atau berupa bintang yang cerlang, seperti Sirius.
Adanya objek astronomis lainnya ini berpotensi menjadikan pengamat menganggapnya sebagai hilal.
Pada tanggal 1 April 2022, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam tidak ada objek astronomis lainnya yang jarak sudutnya lebih kecil daripada 10 derajat dari Bulan.
Data hilal yang diambil umumnya meliputi data posisi lokasi Matahari dan Bulan, waktu terbenam dan azimuth keduanya dari setiap wilayah di Indonesia.
Selain itu, ada juga data konjungsi bulan dan posisi bulan relatif terhadap matahari (elongasi), serta kecerlangan bulan (FI Bulan
Rabu, 14 Februari 2018
Sama-sama Berbasis Bulan, Mengapa Tahun Baru Kalender Tionghoa dan Islam Beda?
Sama-sama Berbasis Bulan, Mengapa Tahun Baru Kalender Tionghoa dan Islam Beda?
KOMPAS.com — Sistem penanggalan Tionghoa dan Islam sama-sama menggunakan bulan sebagai dasar perhitungannya. Namun, tahun baru kedua sistem penanggalan itu ternyata jatuh pada waktu yang jauh berbeda.
Jika Tahun Baru Imlek tahun 2016 jatuh pada Senin (8/2/2016) ini, Tahun Baru Islam atau Hijriah baru akan jatuh pada 2 Oktober 2016 mendatang.
Beberapa mungkin sekadar menjawab bahwa itu terjadi karena perbedaan titik tolak antara dua sistem penanggalan tersebut.
Titik tolak penanggalan Tionghoa adalah milenium 3 sebelum Masehi (SM), masa Kaisar Huang Di, antara tahun 2698 SM dan 2599 SM. Sementara itu, titik tolak penanggalan Islam adalah hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.
Namun, sebenarnya, penyebab perbedaan waktu jatuhnya tahun baru Tionghoa dan Islam lebih dari itu.
Coba cermati. Tahun baru Imlek selalu jatuh pada waktu yang hampir bersamaan tiap tahunnya, antara Januari dan Februari. Sementara itu, tahun baru Islam sangat tidak menentu. Kadang saat musim kemarau, kadang musim hujan.
Lalu ambil contoh kejadian tahun ini. Tanggal 8 Februari 2016 sudah dihitung sebagai awal bulan baru dalam tahun baru kalender Tionghoa. Sementara itu, dalam kalender Islam, hari ini baru tanggal 28 Rabbiul Akhir, belum bulan baru.
Mengapa bisa demikian?
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, dan dosen astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Hakim L Malasan, mengatakan, walaupun sama-sama memakai bulan sebagai patokan, ada perbedaan dalam perhitungan kalender Tionghoa dan Islam.
Penanggalan Islam
Bisa dikatakan, penanggalan Islam benar-benar murni berbasis waktu revolusi bulan mengelilingi bumi, 27,3 hari.
Bulan baru dalam sistem kalender Islam dihitung dari saat penampakan hilal, bulan sabit yang sangat tipis.
Penentuan bulan baru itulah yang kadang menjadi kontroversi saat awal bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri, dan Idul Adha.
Ada yang menganggap penentuan bulan baru harus disertai pengamatan hilal terlebih dahulu, tetapi ada juga yang menganggap bulan baru cukup ditentukan dengan perhitungan waktu penampakan hilal secara matematis.
Walau penentuan bulan baru bersifat rumit, sistem penanggalan Islam secara umum bisa dikatakan lebih sederhana.
Satu tahun adalah 354 hari. Setiap tahun terdiri atas 12 bulan yang lamanya antara 29 dan 30 hari.
Karena lama satu bulan tak benar-benar tepat dengan waktu Bulan mengelilingi Bumi, kalender Islam mengenal tahun kabisat. Ada penambahan satu hari, menjadi 355 hari.
Awal tahun dimulai dari bulan Muharam. Nama-nama bulan diadopsi dari penanggalan yang ada di tanah Arab sejak masa Quraisy atau sebelum Islam.
"Bedanya, Islam melarang memasukkan nasi'(musim)," kata Thomas.
Penanggalan Tionghoa
Kalau sistem penanggalan Islam benar-benar berbasis bulan, sistem penanggalan Tionghoa memasukkan unsur matahari.
Penetapan awal bulannya lebih sederhana. Patokannya bukan hilal, melainkan waktu konjungsi antara bulan dan matahari atau saat bulan dan matahari "bertemu" dan terletak segaris dari sudut pandang manusia.
Dalam Islam, masa saat konjungsi bulan dan matahari disebut ijtimak.
Karena mendasarkan pada waktu konjungsi, penentuan awal bulan baru dalam kalender Tionghoa tak perlu pengamatan, tetapi cukup dihitung secara matematis.
"Astronom-astronom China sejak dahulu sudah ahli dalam membuat perhitungan itu," kata Thomas.
Sementara penentuan tahun barunya sederhana, perhitungan tahun dalam penanggalan China sedikit rumit.
"Unsur musim dimasukkan dalam penanggalan," kata Hakim.
Jika memakai unsur bulan saja, tahun baru dalam kalender Tionghoa akan sama nasibnya dengan tahun baru Islam. Bisa-bisa ada tahun baru yang jatuh pada musim dingin.
Masuknya perhitungan musim inilah letak perpaduan unsur matahari dan bulan dalam kalender Tionghoa.
Seperti diketahui, gerak semu tahunan matahari merupakan penentu musim di bumi. Saat matahari berada di 23,5 derajat Lintang Selatan misalnya, belahan selatan akan mengalami musim panas, dan belahan utara akan mengalami musim dingin.
Dengan memasukkan unsur musim, satu bulan dalam kalender Tionghoa tetap berlangsung antara 29 dan 30 hari seperti sistem kalender Islam.
Namun, kemudian, akan ada bulan kabisat atau Lun Gwee.
Lama bulan kabisat 29-30 hari juga. Penambahan dilakukan setiap 2,7 tahun sekali. Jadi, ada satu tahun dalam kalender Tionghoa yang punya 13 bulan.
Dengan cara itu, selisih 11 hari dengan kalender Masehi bisa diatasi, dan tahun baru Tionghoa tetap jatuh pada musim semi.
Cermin peradaban
Mengapa orang Tionghoa memasukkan unsur musim, sementara Islam melarang?
Penjelasannya bisa hanya mutlak pada faktor kepercayaan, tetapi juga bisa dibahas secara antropologis.
Secara kepercayaan, masyarakat Tionghoa punya keyakinan bahwa tahun baru harus jatuh pada musim semi, saat musim panen tiba.
Musim semi dinilai sebagai momen keberuntungan.
Sementara itu, dalam Islam, memasukkan unsur musim seperti dilakukan dalam kalender Tionghoa atau masa Quraisy dianggap haram dan mengulur-ulur waktu.
Pelarangan itu termuat di dalam Al Quran surat At Taubah ayat 36 dan 37.
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram...."
"Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran...."
Jika puas dengan penjelasan kepercayaan, mungkin kita lantas menghakimi budaya yang lain. Namun, jika memahami latar belakang budaya, kita bisa belajar tentang toleransi.
Bagi masyarakat Tionghoa, musim memang penting.
"Tiongkok merupakan bangsa agraris. Jadi, memasukkan unsur musim itu penting," ungkap Hakim.
Sebaliknya, tanah Arab adalah gurun, tak mungkinlah bertani. Arab merupakan wilayah dagang sehingga musim menjadi tak terlalu penting bagi penduduknya.
Koreksi: Larangan dalam Al Quran terkait mengundur penanggalan ada dalam At Taubah ayat 36-37, bukan ayat 38-39 seperti ditulis sebelumnya.
http://sains.kompas.com/read/2016/02/08/16583781/Sama-sama.Berbasis.Bulan.Mengapa.Tahun.Baru.Kalender.Tionghoa.dan.Islam.Beda.







