Kamis, 18 September 2025
🌷BEBERAPA AMALAN SUNNAH PADA HARI JUM'AT 🌷
Selasa, 13 Februari 2024
mauQuta
Minggu, 03 April 2022
Hilal yang populer saat awal Ramadhan dan 1 Syawal
KOMPAS.com- Pada setiap kali momentum penentuan awal bulan Ramadhan, pasti Anda sering sekali mendengar bahwa Kementerian Agama, BMKG, ilmuwan dan masyarakat akan beramai-ramai melihat ketampakan hilal.
Hal ini pun menimbulkan pertanyaan mendasar, apa itu hilal yang selalu ramai diperbincangkan menjelang bulan puasa?
Hilal adalah bulan sabit tertipis yang berkedudukan rendah di atas cakrawala langit barat, dan sudah diamati tepat selepas terbenam Matahari.
Dalam agama Islam, hilal atau bulan sabit tertipis dijadikan sebagai penentu perbedaan waktu dan menentukan kapan waktu yang tepat untuk beribadah kepada Allah SWT.
Pada prinsipnya dalam menentukan 1 Ramadhan, pemerintah melalui sidang isbat yang dipimpin oleh Kementerian Agama (Kemenag) akan mempertimbangkan pendekatan hisab dan rukyatul hilal.
Untuk diketahui, pendekatan hisab adalah cara memperkirakan posisi bulan dan matahari terhadap bumi dengan proses perhitungan astronomis.
Sedangkan, pendekatan rukyat adalah aktivitas pengamatan visibilitas hilal atau bulan sabit saat Matahari terbenam menjelang awal bulan di Kalender Hijriah.
Periode Ramadhan 1443 Hijriah di tahun 2022 Masehi ini, ditetapkan pemerintah jatuh pada tanggal 3 April 2022, dikarenakan ketinggian atau ketampakan hilal yang terlalu rendah dan tidak mungkin terlihat.
Disampaikan oleh Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas dalam sidang isbat penentuan awal Ramadhan 2022, Jumat (1/4/2022) bahwa ketinggian penampakan hilal di seluruh Indonesia pada posisi 1 derajat 6,78 menit sampai dengan 2 derajat 10.02 menit berdasarkan hisab.
Hal ini dianggap belum memenuhi kriteria jika mengacu pada MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Dalam pedoman MABIMS, untuk menetapkan 1 Ramadhan 1443 Hijriah, tinggi bulan minimal adalah 3 derajat dengan elongasi minimal 6,4 derajat.
“Artinya, di Indonesia ini (penampakan) hilal terlalu rendah dan tidak mungkin bisa mengalahkan cahaya syafaq, sehingga tidak mungkin untuk terlihatnya hilal,” ujar anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriah Kemenag, Thomas Djamaluddin.
Tinggi hilal adalah besar sudut yang dinyatakan dari posisi proyeksi Bulan di Horizon-teramati hingga ke posisi pusat piringan Bulan berada.
Tinggi hilal positif berarti hilal berada di atas horizon pada saat Matahari terbenam. Sedangkan, tinggi hilal negatif berarti hilal berada di bawah horizon pada saat Matahari terbenam.
Thomas menambahkan, tinggi bulan atau hilal di wilayah Jakarta kemarin hanya 1 derajat 42 menit, yang artinya tidak sesuai dengan kriteria penentuan awal Ramadhan, yang mana menjadi penentu awal puasa.
Metode melihat hilal
Astronom amatir Indonesia sekaligus Pembimbing dan Pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIK) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKIF) Kebumen Jawa Tengah, Marufin Sudibyo mengatakan, setidaknya ada tiga metode yang digunakan dalam melihat hilal ini.
Metode melihat hilal yang pertama adalah dengan menggunakan mata telanjang.
“Metode pertama adalah menggunakan mata telanjang, tanpa alat bantu optik sama sekali, Sehingga, menghasilkan fenomena kasatmata-telanjang,” jelas Marufin dalam pemberitaan Kompas.com edisi 22 April 2020.
Metode kedua dilakukan dengan menggunakan alat bantu optik terutama teleskop, namun tetap mengandalkan penglihatan mata.
"Ini menghasilkan fenomena kasatmata-teleskop,” tambahnya.
Metode terakhir adalah dengan menggunakan alat optik terutama teleskop yang terangkai dengan sensor atau kamera.
Baca juga: Hilal Tidak Terlihat, Kapan Puasa Ramadhan 2022? Ini Kata Kemenag
“Sensor atau kamera ini memproduksi denyut elektronik yang bisa diolah sebagai citra atau gambar. Ini menghasilkan fenomena kasat-kamera,” tambahnya.
Dari ketiga metode tersebut, yang paling populer adalah penggunaan metode mata telanjang dan mata yang dibantu oleh alat optik khususnya teleskop.
Mengapa perlu melihat hilal?
Marufin menyebutkan bahwa melihat hilal dinyatakan secara tekstual dalam sabda Nabi SAW: “Berpuasalah (dan berhari raya) karena melihat hilal. Jika tidak terlihat maka genapkanlah.”
Dengan landasan itu, maka rukyatul hilal (observasi hilal) dipahami sebagai ibadah. Selain menentukan awal bulan kalender Hijriyah, hilal juga menentukan awal dua hari raya.
“Meski di sini ada sedikit perbedaan. Lembaga seperti Nahdatul Ulama berpedoman seluruh awal bulan kalender Hijriyyah harus ditentukan oleh terlihat atau tidaknya hilal, maka rukyatul hilal (observasi hilal) digelar setiap awal bulan,” papar Marufin.
Sementara itu, lembaga yang lain berpedoman rukyatul hilal cukup dilakukan hanya pada awal Ramadhan dan dua hari raya.
Baca juga: Penentuan Hilal Ramadhan 1443 H, BMKG Ungkap Potensi Hasil Rukyat Awal Puasa
Sementara di bulan-bulan kalender Hijriah lainnya tidak ditetapkan dengan rukyatul hilal, tetapi ditetapkan berdasarkan hisab (perhitungan numerik-astronomik) yang bersandar pada sebuah kriteria yang memuat parameter-parameter minimal posisi Bulan.
“Sementara lembaga seperti Muhammadiyah berpedoman, seluruh awal bulan kalender Hijriyyah ditetapkan dengan cara hisab berdasarkan kriteria tertentu saja,” tambahnya.
Kondisi yang mempengaruhi rukyatul hilal
Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Rahmat Triyono, ST, Dipl.Seis, M.Sc mengatakan, yang perlu diperhatikan dalam perencanaan rukyat hilal adalah perlu diperkirakan juga objek-objek astronomis.
Objek-objek astronomis yang dimaksud adalah yang selain hilal dan Matahari yang posisinya berdekatan dengan Bulan dan kecerlangannya tidak berbeda jauh dengan hilal atau lebih cerlang daripada hilal.
Baca juga: 8 Data yang Jadi Pertimbangan Penentuan Hilal Awal Ramadhan 1443 Hijriyah
Objek astronomis ini dapat berupa planet, misalnya Venus atau Merkurius, atau berupa bintang yang cerlang, seperti Sirius.
Adanya objek astronomis lainnya ini berpotensi menjadikan pengamat menganggapnya sebagai hilal.
Pada tanggal 1 April 2022, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam tidak ada objek astronomis lainnya yang jarak sudutnya lebih kecil daripada 10 derajat dari Bulan.
Data hilal yang diambil umumnya meliputi data posisi lokasi Matahari dan Bulan, waktu terbenam dan azimuth keduanya dari setiap wilayah di Indonesia.
Selain itu, ada juga data konjungsi bulan dan posisi bulan relatif terhadap matahari (elongasi), serta kecerlangan bulan (FI Bulan
Sabtu, 26 Januari 2019
Hasil Tugas Akhir Kuliah/Sekripsi Jadi Lahan Pekerjaan
Pernahkan Anda melihat jam digital dan penunjuk waktu sholat digital di masjid? Pernahkan Anda melihat pigura gambar masjid di rumah-rumah dihiasi jam digital dari LED? Kalau belum, datang saja ke masjid Unitomo atau masjid terdekat di kota Anda. :D
Baik, saya akan ceritakan sedikit tentang sejarah produk jam digital dan jadwal sholat tersebut dan siapa orang di balik produk tersebut.
Produk tersebut awalnya merupakan tugas akhir seorang mahasiswa MIPA Fisika ITS dengan judul "Perancangan dan Pembuatan Alat Pertanda Awal Waktu Sholat dengan suara adzan", pada tahun 2000.
Ide dasarnya adalah bagaimana membuat jadwal sholat lima waktu yang mengikuti waktu pergeseran matahari dan memperdengarkan adzan saat telah masuk waktu sholat.
Saat itu belum ada aplikasi jadwal sholat dan adzan seperti di gawai android sekarang. Jadi masih menggunakan pemrograman assembly, mikrokontroler dan memory yang ukurannya terbatas.
Hebatnya lagi, proposal penelitian tersebut mendapatkan pendanaan dari pemerintah (Dikti) dan telah dipatenkan pada tahun 2001.
Setelah si mahasiswa lulus, dia mendirikan perusahaan bernama MauQuta yang artinya, waktu yang telah ditentukan. Diambil dari surat An-nisa ayat 103, Sesungguhnya shalat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman".
Si mahasiswa tersebut saat ini telah menjelma menjadi pengusaha sukses dari mengembangkan produk tugas akhirnya. Bahkan perusahaannya telah berkali-kali mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Tahun 2017 lalu, PT MauQuta Abadia mendapatkan penghargaan Paramakarya sebagai perusahaan menengah yang berhasil meningkatkan produktivitasnya.
Mahasiswa tersebut adalah Mas Lukman Bawafi . Saya mengenal beliau dari Bapak M. Sujatmiko (alm) yang kebetulan istri beliau Bu Endang (alm) adalah dosen di MIPA Fisika ITS.
Seingat saya, Mas Lukman BaBawafi sempat menjadi dosen LB di Teknik Informatika Unitomo juga. Namun saya lupa beliau mengajar apa dan tahun berapa. Kalau tidak salah, mengajar Fisika di sekitar tahun 2003-2004.
Kisah ini merupakan contoh ideal yang diharapkan pemerintah saat ini, bagaimana kampus bisa menghasilkan SDM terdidik dan mandiri. Seorang sarjana, dengan pengetahuan dan keterampilannya bisa kreatif dan inovatif mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri dan orang lain.
Kisah ini juga bisa menjadi pelajaran bagi saya sebagai orang kampus, bagaimana menyusun kurikulum dan modul pembelajaran yang mampu menghasilkan sarjana yang kompeten, kreatif, inovatif dan mandiri.
Hallo Sarjana Teknik, apa kabar kalian?
Gambar diambil dari:
http://jadwal-sholat-digital.blogspot.com
Tulisan ini di ambil dari laman FB berikut
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10156904060342381&id=703827380







