Tampilkan postingan dengan label digital. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label digital. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Sama-sama Berbasis Bulan, Mengapa Tahun Baru Kalender Tionghoa dan Islam Beda?

Sama-sama Berbasis Bulan, Mengapa Tahun Baru Kalender Tionghoa dan Islam Beda?

KOMPAS.com — Sistem penanggalan Tionghoa dan Islam sama-sama menggunakan bulan sebagai dasar perhitungannya. Namun, tahun baru kedua sistem penanggalan itu ternyata jatuh pada waktu yang jauh berbeda.

Jika Tahun Baru Imlek tahun 2016 jatuh pada Senin (8/2/2016) ini, Tahun Baru Islam atau Hijriah baru akan jatuh pada 2 Oktober 2016 mendatang.

Beberapa mungkin sekadar menjawab bahwa itu terjadi karena perbedaan titik tolak antara dua sistem penanggalan tersebut.

Titik tolak penanggalan Tionghoa adalah milenium 3 sebelum Masehi (SM), masa Kaisar Huang Di, antara tahun 2698 SM dan 2599 SM. Sementara itu, titik tolak penanggalan Islam adalah hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Namun, sebenarnya, penyebab perbedaan waktu jatuhnya tahun baru Tionghoa dan Islam lebih dari itu.

Coba cermati. Tahun baru Imlek selalu jatuh pada waktu yang hampir bersamaan tiap tahunnya, antara Januari dan Februari. Sementara itu, tahun baru Islam sangat tidak menentu. Kadang saat musim kemarau, kadang musim hujan.

Lalu ambil contoh kejadian tahun ini. Tanggal 8 Februari 2016 sudah dihitung sebagai awal bulan baru dalam tahun baru kalender Tionghoa. Sementara itu, dalam kalender Islam, hari ini baru tanggal 28 Rabbiul Akhir, belum bulan baru.

Mengapa bisa demikian?

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, dan dosen astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Hakim L Malasan, mengatakan, walaupun sama-sama memakai bulan sebagai patokan, ada perbedaan dalam perhitungan kalender Tionghoa dan Islam.

Penanggalan Islam

Bisa dikatakan, penanggalan Islam benar-benar murni berbasis waktu revolusi bulan mengelilingi bumi, 27,3 hari.

Bulan baru dalam sistem kalender Islam dihitung dari saat penampakan hilal, bulan sabit yang sangat tipis.

Penentuan bulan baru itulah yang kadang menjadi kontroversi saat awal bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri, dan Idul Adha.

Ada yang menganggap penentuan bulan baru harus disertai pengamatan hilal terlebih dahulu, tetapi ada juga yang menganggap bulan baru cukup ditentukan dengan perhitungan waktu penampakan hilal secara matematis.

Walau penentuan bulan baru bersifat rumit, sistem penanggalan Islam secara umum bisa dikatakan lebih sederhana.

Satu tahun adalah 354 hari. Setiap tahun terdiri atas 12 bulan yang lamanya antara 29 dan 30 hari.

Karena lama satu bulan tak benar-benar tepat dengan waktu Bulan mengelilingi Bumi, kalender Islam mengenal tahun kabisat. Ada penambahan satu hari, menjadi 355 hari.

Awal tahun dimulai dari bulan Muharam. Nama-nama bulan diadopsi dari penanggalan yang ada di tanah Arab sejak masa Quraisy atau sebelum Islam.

"Bedanya, Islam melarang memasukkan nasi'(musim)," kata Thomas.

Penanggalan Tionghoa

Kalau sistem penanggalan Islam benar-benar berbasis bulan, sistem penanggalan Tionghoa memasukkan unsur matahari.

Penetapan awal bulannya lebih sederhana. Patokannya bukan hilal, melainkan waktu konjungsi antara bulan dan matahari atau saat bulan dan matahari "bertemu" dan terletak segaris dari sudut pandang manusia.

Dalam Islam, masa saat konjungsi bulan dan matahari disebut ijtimak.

Karena mendasarkan pada waktu konjungsi, penentuan awal bulan baru dalam kalender Tionghoa tak perlu pengamatan, tetapi cukup dihitung secara matematis.

"Astronom-astronom China sejak dahulu sudah ahli dalam membuat perhitungan itu," kata Thomas.

Sementara penentuan tahun barunya sederhana, perhitungan tahun dalam penanggalan China sedikit rumit.

"Unsur musim dimasukkan dalam penanggalan," kata Hakim.

Jika memakai unsur bulan saja, tahun baru dalam kalender Tionghoa akan sama nasibnya dengan tahun baru Islam. Bisa-bisa ada tahun baru yang jatuh pada musim dingin.

Masuknya perhitungan musim inilah letak perpaduan unsur matahari dan bulan dalam kalender Tionghoa.

Seperti diketahui, gerak semu tahunan matahari merupakan penentu musim di bumi. Saat matahari berada di 23,5 derajat Lintang Selatan misalnya, belahan selatan akan mengalami musim panas, dan belahan utara akan mengalami musim dingin.

Dengan memasukkan unsur musim, satu bulan dalam kalender Tionghoa tetap berlangsung antara 29 dan 30 hari seperti sistem kalender Islam.

Namun, kemudian, akan ada bulan kabisat atau Lun Gwee.

Lama bulan kabisat 29-30 hari juga. Penambahan dilakukan setiap 2,7 tahun sekali. Jadi, ada satu tahun dalam kalender Tionghoa yang punya 13 bulan.

Dengan cara itu, selisih 11 hari dengan kalender Masehi bisa diatasi, dan tahun baru Tionghoa tetap jatuh pada musim semi.

Cermin peradaban

Mengapa orang Tionghoa memasukkan unsur musim, sementara Islam melarang?

Penjelasannya bisa hanya mutlak pada faktor kepercayaan, tetapi juga bisa dibahas secara antropologis.

Secara kepercayaan, masyarakat Tionghoa punya keyakinan bahwa tahun baru harus jatuh pada musim semi, saat musim panen tiba.

Musim semi dinilai sebagai momen keberuntungan.

Sementara itu, dalam Islam, memasukkan unsur musim seperti dilakukan dalam kalender Tionghoa atau masa Quraisy dianggap haram dan mengulur-ulur waktu.

Pelarangan itu termuat di dalam Al Quran surat At Taubah ayat 36 dan 37.

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram...."

"Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran...."

Jika puas dengan penjelasan kepercayaan, mungkin kita lantas menghakimi budaya yang lain. Namun, jika memahami latar belakang budaya, kita bisa belajar tentang toleransi.

Bagi masyarakat Tionghoa, musim memang penting.

"Tiongkok merupakan bangsa agraris. Jadi, memasukkan unsur musim itu penting," ungkap Hakim.

Sebaliknya, tanah Arab adalah gurun, tak mungkinlah bertani. Arab merupakan wilayah dagang sehingga musim menjadi tak terlalu penting bagi penduduknya.

Koreksi: Larangan dalam Al Quran terkait mengundur penanggalan ada dalam At Taubah ayat 36-37, bukan ayat 38-39 seperti ditulis sebelumnya.

http://sains.kompas.com/read/2016/02/08/16583781/Sama-sama.Berbasis.Bulan.Mengapa.Tahun.Baru.Kalender.Tionghoa.dan.Islam.Beda.

Sabtu, 09 September 2017

Berita di koran Jawa Pos tentang penemuan Alat Penunjuk Waktu Salat mauQuta

Kliping Koran Jawa Pos hari sabtu, 25 November 2000 di halaman metropolis


Jawa Pos, 25 November 2000
Mahasiswa Fisika ITS Ciptakan Alat Penunjuk Waktu Salat Sepanjang Masa

Fleksibel, Praktis, dan Lebih Akurat

Satu lagi karya inovatif diciptakan mahasiswa Surabaya, Lukman Bawafi, mahasiswa Fakultas MIPA Jurusan Fisika ITS, menciptakan alat pertanda waktu salat elektronik. Alat yang diberi nama mauQuta ini, selain mampu menunjukkan jadwal salat sepanjang masa, suara azan juga akan berkumandang setiap waktu salat tiba.
MAUQUTA adalah kata Arab yang berarti yang telah ditentukan waktunya. Nama temuan Lukman itu diambil dari Alquran surat An-Nisa 103. Alat itu diciptakan untuk karya akhir kuliahnya yang diberi judul Perancangan dan Pembuatan Alat Pertanda Awal Waktu Sholat dengan suara adzan.
            Alat ini bisa berfungsi sebagai kalender, jam digital, dan tulisan elektronik berjalan yang bisa diprogram sesuai keinginan,” jelas Lukman, kemarin.
            Diciptakannya alat canggih tersebut berawal dari kejelian Lukman mengamati jadwal salat di masjid yang lima hari sekali harus diganti. “Padahal, tiap hari ada sedikit perubahan jadwal salat dalam kisaran detik,” ujarnya. Selain itu, tambah Lukman, jadwal salat sebenarnya berubah sepersekian detik tiap tahun pada tanggal dan bulan yang sama.
            Menurut dia, mauQuta sebenarnya semikonduktor mikrokontroler yang didalamnya berisi program komputer assembler -bahasa komputer tingkat rendah yang langsung berhubungan dengan instruksi mesin yang menirukan cara kerja seorang ahli hisab menghitung jadwal salat. Jadwal salat diperolehnya dari perhitungan ilmu falak, kedudukan matahari terhadap suatu kota atau daerah tertentu. Jadwal salat secara otomatis akan disesuaikan setiap hari.
            Alat dengan hiasan kaligrafi ini juga fleksibel, mudah dibawa kemana saja. “Tinggal memilih setting di kota bersangkutan. Untuk Indonesia, ada 250 kota besar yang sudah dimasukkan ke basis data mikrokontrolernya,” lanjut Lukman. Sedangkan untuk wilayah di luar Indonesia, masih harus dimasukkan letak lintang dan bujur kota yang bersangkutan dengan memutar tombol yang ada disamping kiri mauQuta.
            MauQuta ternyata bukan hanya mengantarkan Lukman meraih gelar sarjana fisika dari ITS, tapi juga mendapat kucuran dana KAM (Karya Alternatif Mahasiswa) dari Dirjen DIKTI (Pendidikan Tinggi) Jakarta untuk mengembangkan karya itu lebih jauh. “Dari 40 proposal yang dikirim ITS waktu itu, hanya enam yang lolos, termasuk saya,” ucapnya bangga.
            Berkat mauQuta pula, Lukman menjadi semifinalis Pimnas (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) yang akan dilombakan pada Februari 2001 mendatang di Makassar, Sulsel. Bahkan, kini karyanya dilirik produsen elektronik CV. Royan Jaya dan sedang diproduksi secara masal.
            Kehebatan alat ini, selain praktis dan waktu yang dihasilkan akurat, juga terletak pada manipulasi kerja mikrokontroler. Sebab mokrokontroler adalah jenis mikroprosesor yang bukan dikhususkan untuk melakukan proses perhitungan atau komputasi numerik. Berbeda dengan mikroprosesor komputer pribadi yang memang ditujukan untuk perhitungan.
            Mikrokontroler digunakan di dunia industri sebagai alat pengaturan, misalnya suhu atau proses produksi lain. “Jadi, saya masih harus menggunakan persamaan-persamaan matematika agar mikrokontroler ini bisa menghitung waktu sholat,” ujar Lukman.
            Lalu, mengapa tidak memakai mikroprosesor komputer biasa ? Pertimbangan Lukman semata-mata masalah harga dan kelangkaan barang. “Prosesor komputer lama seperti 386 dan 486 sekarang susah dicari. Sedang prosesor baru macam Pentium harganya masih terbilang mahal.”
            Akibatnya, untuk menghidupkan mauQuta -yang kini sedang dipatenkan- diperlukan waktu sekitar 90 detik guna menghitung waktu. “Ini ditandai tampilan tulisanmauQuta pada display,” katanya. Disamping menggunakan listrik PLN 5 watt, mauQutajuga dilengkapi baterai RTC (Real Time Clock) seperti yang ada pada komputer biasa. Gunanya menyimpan data waktu, kalender, dan jam secara terus menerus. (frd)

Sambungan kliping Koran Jawa Pos hari sabtu, 25 November 2000 di halaman metropolis




Minggu, 29 Mei 2016

Diantara Manfaat Awal Waktu Shalat

*Bismillahirrahmannirrahim.*
Inilah Rahasia Mengapa Sholat Sebaiknya di Awal Waktu ..

Ternyata anjuran tersebut ada hikmahnya.

Menurut para ahli, setiap perpindahan waktu sholat, bersamaan dengan terjadinya perubahan tenaga alam dan dirasakan melalui perubahan warna alam.

Kondisi tersebut dapat berpengaruh pada kesehatan, psikologis dan lainnya.

Berikut ini kaitan antara sholat di awal waktu dengan warna alam.

Waktu Subuh*_

Pada waktu subuh, alam berada dlm spektrum warna biru muda yg bersesuaian dgn frekuensi tiroid (kelenjar gondok).

Dalam ilmu Fisiologi, tiroid mempunyai pengaruh terhadap sistem metabolisma tubuh manusia.

Warna biru muda juga mempunyai rahasia tersendiri berkaitan dgn rejeki dan cara berkomunikasi.

Mereka yg msh tertidur nyenyak pd waktu Subuh dapat menghadapi masalah rejeki dan komunikasi.

Mengapa? Karena tiroid tdk dpt menyerap tenaga biru muda di alam ketika roh dan jasad msh tertidur.

Pd saat azan subuh berkumandang, tenaga alam ini berada pd tingkatan optimal.

Tenaga inilah yang kemudian diserap oleh tubuh kita terutama pd waktu ruku dan sujud.

Waktu Zuhur_*

Alam berubah menguning dan ini berpengaruh kpd perut dan sistem pencernaan manusia secara keseluruhan. Warna ini juga punya pengaruh thd hati.

Warna kuning ini mempunyai rahasia berkaitan dgn keceriaan seseorg.

Mrk yg selalu ketinggalan atau melewatkan sholat Zuhur berulang kali dpt menghadapi masalah dlm sistem pencernaan serta berkurang keceriaannya.

Waktu Ashar*_

Alam berubah lagi warnanya menjadi oranye. Hal ini berpengaruh cukup signifikan thd organ tubuh yaitu prostat, rahim, ovarium/ indung telur dan testis yg merupakan sistem reproduksi secara keseluruhan.

Warna oranye di alam jg mempengaruhi kreativitas seseorg.

Orang yg sering ketinggalan waktu Ashar dpt menurun daya kreativitasnya.

Di samping itu organ-organ reproduksi ini jg akan kehilangan tenaga positif dari warna alam tersebut.

Waktu Maghrib*_

Warna alam kembali berubah menjadi merah.
Sering pd waktu ini kita mendengar banyak nasehat orang tua agar tdk berada di luar rumah.

Nasehat tsb ada benarnya krn pd saat Maghrib tiba, spektrum warna alam selaras dgn frekuensi jin dan iblis.

Pada waktu ini jin dan iblis amat bertenaga krn mereka ikut bergetar dgn warna alam. Mereka yg sdg dlm perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan sholat Maghrib terlebih dahulu.

Hal ini lbh baik dan lbh selamat krn pd waktu ini banyak gangguan atau terjadi tumpang-tindih dua atau lebih gelombang yg berfrekuensi sama atau hampir sama dan bisa menimbulkan fatamorgana yg bisa mengganggu penglihatan kita.

Waktu Isya*_

Pd waktu ini, warna alam berubah menjadi nila dan selanjutnya menjadi gelap.

Waktu Isya mempunyai rahasia ketenteraman dan kedamaian yg frekuensinya sesuai dengan sistem kontrol otak.

Mrk yg sering ketinggalan Isya bisa sering merasa gelisah.

Untuk itulah ketika alam mulai diselimuti kegelapan, kita dianjurkan untuk mengistirahatkan tubuh ini.

Dengan tidur pd waktu Isya, keadaan jiwa kita berada pd gelombang Delta dgn frekuensi dibawah 4 Hertz dan seluruh sistem tubuh memasuki waktu rehat

Selepas tengah malam,_* alam mulai bersinar kembali dgn warna-warna putih, merah jambu dan ungu.

Perubahan warna ini selaras dgn kelenjar pineal (sebuah kelenjar endokrin pada otak) kelenjar pituitary, thalamus (struktur simetris garis tengah dlm otak yg fungsinya mencakup sensasi menyampaikan, rasa khusus dan sinyal motor ke korteks serebral, bersama dgn pengaturan kesadaran, tidur dan kewaspadaan) dan hypothalamus (bagian otak yg terdiri dari sejumlah nucleus dgn berbagai fungsi yg sangat peka terhadap steroid, glukokortikoid, glukosa dan suhu).

Maka sebaiknya kita bangun lagi pd waktu ini utk mengerjakan sholat malam (tahajjud).

Umat Islam sepatutnya bersyukur krn tlh di’karuniakan’ syariat sholat oleh Allah Swt sehingga jika dilaksanakan sesuai aturan maka secara tak sadar kita telah menyerap tenaga alam ini.

Inilah salah satu hakikat mengapa Allah Swt mewajibkan sholat kpd kita. j

Sholat di awal waktu dpt membuat badan semakin sehat.

Untuk mengetahui awal waktu shalat jangan lupa di rumah diisi dengan produk mauQuta.

Wallahu a'lam.